Minggu, 15 Januari 2017

Resensi Bulan - Tere Liye

Judul : Bulan
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia 
Tebal Buku : 400 halaman; 13.5 x 20 cm 
Terbit : Jakarta
Tahun : 2015
Harga : Rp. 79.000 

Backcover:
Namanya Seli, usianya 15 tahun, kelas sepuluh. Dia sama seperti remaja yang lain. Menyukai hal yang sama, mendengarkan lagu-lagu yang sama, pergi ke gerai fast food, menonton serial drama, film, dan hal-hal yang disukai remaja.

Tetapi ada sebuah rahasia kecil Seli yang tidak pernah diketahui siapa pun. Sesuatu yang dia simpan sendiri sejak kecil. Sesuatu yang menakjubkan dengan tangannya.

Namanya Seli. Dan tangannya bisa mengeluarkan petir.

Resensi:

       Bulan bercerita tentang tiga sahabat kelas X SMA berusia 15 tahun di dunia paralel. Mereka adalah Seli, Ali, dan Raib. Dalam novel Bulan sudut pandang mengambil Raib sebagai pencerita. Dalam novel Bulan, bercerita tentang petualangan menyelesaikan perlombaan Festival Bunga Matahari di dunia Klan Matahari, klan Seli. Mereka mendapat teman baru di sini, yaitu Ily, pemuda lulusan Akademi klan Bulan. Di sepanjang perjalanan menuju klan Matahari mereka ditemani oleh Av dan Miss Selena, pembimbing mereka.

       Sebelumnya, mereka tidak mengetahui bahwa mereka akan direkrut oleh Fala-tara-tana IV sebagai anggota kontingen kesepuluh peserta lomba Festival Bunga Matahari. Padahal sejak beberapa dekade tidak pernah ada klan kesepuluh. Nah, untuk mengurangi kecurigaan rakyat dan peserta, Fala-tara-tana IV mengatakan sistem perlombaannya sudah diubah menjadi lebih mudah. Festival ini adalah lomba menemukan bunga matahari paling pertama mekar di tanah Klan Matahari. Tetapi tidak sesederhana itu, ternyata Fala-tara-tana IV selaku ketua konsil Klan Matahari menginginkan sesuatu yang lain dari keikutsertaan mereka. 

       Apakah Ali, Seli, Ily, dan Raib mampu menemukan bunga matahari paling pertama mekar? Lantas, untuk apa Fala-tara-tana IV menutupi kecurigaan rakyat dan peserta lainnya?

•••

       Saya membaca Bulan tanpa ekspektasi apa-apa. Sungguh. Mengingat tahun lalu belum bisa move on dari om kelasi Ambo Uleng dan kakek Gurutta dalam novel beliau, Rindu. Rindu menjadi pemenang novel fiksi islami dewasa terbaik di Islamic Book Fair mewakili Republika (2015).

       Bulan adalah jilid kedua dari buku tetralogi Bumi. Jadi urutannya adalah Bumi, Bulan, Matahari, dan Bintang dengan jarak terbit masing-masing satu tahun. Tere Liye yang bernama asli Darwis terbilang penulis produktif dengan karya yang berbobot dan penuh pesan moral. Terlepas dari sosoknya yang kontroversial, yang menurut sebuah laman situs, beliau adalah tipe penulis yang enggan dikritik. Namun meski begitu, saya percaya Tere Liye memiliki alasan untuk tidak terlalu mendengarkan kritikan dari orang lain. Terbukti, meski di luar sana banyak yang enggan membaca tulisan beliau hanya karena alasan subjektif (personal, satu sisi), tetapi tho sampai saat ini tulisan beliau masih bestseller di pasaran. Hal ini membuktikan lebih banyak peminat karya beliau daripada haters. Termasuk saya, bahkan jika Tere Liye menerbitkan novel horor saya tetap ingin membacanya.

       Saya tidak bisa membandingkan novel ini dengan novel fantasi lain, semisal Harry Potter, Hunger Games, dan Percy Jackson, atau dengan film lain semisal Jumanji dan anime Digimon. Novel fantasi Tere Liye memiliki daya tarik sendiri, ditulis dari sudut pandang penulis Timur. Dan saya rasa, inilah yang membedakan cara menulis antara penulis Timur dan Barat. Penulis Timur lebih sopan dalam mengeksplorasi cerita, penulis Barat ya mohon maaf, terkadang ada sisipan kissing dan sejenisnya. Dan Tere Liye mewakili salah satu wajah penulis Timur dari Indonesia. Untuk penikmat novel fantasi, saya merekomendasikan tetralogi ini. Poin plusnya adalah Tere Liye penulis produktif, jadi kita tidak perlu menunggu waktu lama untuk menanti jilid terakhir, yaitu Bintang. Saran saya, ketika membaca jangan melewati halaman begitu saja ya, karena akan ada twist ending.

Tokoh favorit:
Tokoh favorit saya bukan berasal dari tokoh utama. Saya suka Mena-tara-nata II, dengan empat anak panah sekali lesat, di halaman 246.
Dan tentu saja, nenek Hana-tara-hata, di halaman 139.

Minus:
Saya sedikit heran kenapa Ali tidak menggunakan kekuatannya saat menghadapi kawanan gorila, justru menjelang ending Ali baru menunjukkannya, di halaman 384.
Ada typo: frustrasi seharusnya frustasi, di halaman 322.

Quotes:

"Tapi dia selalu menyinggung nilai ulanganku, mengolok-olok, seolah pintar atau tidaknya seseorang, berhasil atau gagal, hanya dilihat dari selembar hasil ulangan. Dia bilang aku merusak nilai rata-rata kelas." halaman 13.

"Kompetisi itu mulai berubah, menjadi simbol kekuatan setiap fraksi. Siapapun yang berhasil menemukannya, maka fraksinya berhak memimpin."
halaman 143.

"Ketahuilah, mau seberapa maju teknologi dunia ini, mau bagaimanapun mereka mengubah peraturan kompetesi, maka sejatinya kompetesi ini tetap tentang alam liar. Kamu tidak membutuhkan kekuatan besar, atau senjata-senjata terbaik untuk menemukan bunga matahari paling pertama mekar. Kamu cukup memiliki keberanian, kehormatan, ketulusan, dan yang paling penting, mendengarkan alam liar."
halaman 147.

Saya berharap, ketika novel empat jilid ini diangkat ke film, mohon pihak produser dipertimbangkan masak-masak dari mulai casting, peran, bahkan efek yang nanti dipakai. Berharap banget, ada film sains-fiksi dari Indonesia seperti gambaran novel ini. Akhir kata, Bulan adalah novel yang worth it banget untuk dibaca. Dan Tentang Kamu, novel baru beliau, menjadi booklist untuk saya baca selanjutnya.

15 Januari 2017
23:28 WIB
ditulis via ponsel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar