Senin, 23 Januari 2017

Resensi – Hatta Bercerita: Cerita tentang Kebijaksanaan  

Judul:
Hatta Bercerita: Cerita tentang Kebijaksanaan  
No. ISBN: 9789792298420
Penulis: Tim Hatta Rajasa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 
Tahun terbit: September - 2013
Tebal: 130 halaman
Harga: Rp 48.000

Sinopsis:
"Kakek, ayo mendongeng untukku," kata Cucu.
"Kau ingin mendengarkan kisah apa?" tanya Kakek.
"Yang seru-seru," kata Cucu.
"Bagaimana dengan kisah pemuda yang menaklukkan naga? Atau tentang bocah cerdik yang mengakali penculik?" tanya Kakek.
"Itu boleh. Tapi jangan hanya itu."
"Wah, wah... Kau sudah pernah mendengar tentang Timun Mas? Ia gadis pemberani yang mengalahkan raksasa."
"Hihihi, belum, namanya lucu seperti buah-buahan. Sepertinya seru."
"Baik, Kakek akan bercerita satu-satu," kata Kakek.

Maka berkisahlah Hatta Rajasa tentang "Batu Belah Batu Betangkup", "Biwar Sang Penakluk Naga", "Kemarau Panjang di Kerajaan Buaya", "Putri Bunga Memanah Rembulan", dan "Si Kelingking". Cerita dari seluruh pelosok Nusantara ini begitu melekat di hati sang Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia sejak kecil. Cerita yang mengajarkan kita agar patuh terhadap orangtua, tentang kemuliaan hati, kepemimpinan, dan keberanian untuk membela yang benar.

***

Resensi:

       Semalam demam saya meninggi, panas menggigil. Niat awal mau ke kampus cari referensi untuk skripsi batal sudah. Kepala berat, pilek, bersin, dan badan kedinginan. Pagi tadi baru sempat ke dokter, alhamdulillah menjelang sore badan berangsur membaik.

       Bosan karena tidak mengerjakan apa-apa, mau makan mulut terasa pahit, mau tidur semakin pusing, mau baca buku kok ya seperti ada pembebat di kepala saya. Akhirnya saya memilih alternatif ketiga, baca buku tapi buku dongeng jadi nggak berat-berat banget bacaannya, kan? *nyengir*.

       Cukup sudah intermezo di atas, lanjut ke resensi. Awalnya saya pikir buku dongeng ini ditulis oleh Hatta Rajasa, ternyata yang menulis bukan beliau, melainkan tim beliau. Hatta bertugas sebagai pemberi nasihat di buku ini.
Buku ini terdiri dari lima cerita dongeng yang masyhur diceritakan turun temurun. Beberapa cerita sudah pernah saya baca. Lima cerita dalam buku ini di antaranya:
1. Batu Belah Batu Betangkup – Melayu
2. Biwar Sang Penakluk Naga – Papua
3. Kemarau Panjang di Kerajaan Buaya – fabel
4. Putri Bunga Memanah Rembulan – Kalimantan Barat
5. Si Kelingking – Jambi

       Kelima cerita di atas dihubungkan dalam satu benang merah: kebijaksanaan. Meski begitu, menurut saya cerita yang paling mewakili pesan moral tersebut adalah Putri Bunga Memanah Rembulan. Dalam cerita ini dikisahkan bahwa Putri Bunga (Hua) yang ingin sekali bertemu dengan arwah ibunya, mendapatkan selembar bulu sakti dari ekor burung Hong. Ajaibnya, bulu sakti itu berubah wujud menjadi panah sakti yang nantinya kelak akan digunakan untuk memanah bulan yang memenjarakan arwah ibunya. Namun sayangnya, bersamaan dengan itu kerajaan San Keuw Jong tengah diserang siluman ular yang memorak-porandakan istana.

       "Namun ingatlah putri Hua, bahwa anak panah ajaib ini hanya boleh digunakan satu kali," kata burung Hong, "maka jika panah ini kau gunakan untuk membunuh ular siluman, engkau tidak akan bisa memanah bulan untuk ibundamu." - halaman 82.

       Putri Hua gamang. Hanya ada satu pilihan di antara beragam pilihan lain dalam hidup ini. Akankah Putri Hua memanah rembulan dan bertemu ibunya atau memanah siluman ular yang meresahkan rakyat sekitar di kerajaan ayahnya?

Kelebihan:
1. Bahasa yang digunakan dalam penulis cukup mengalir. Ini soal selera saja, saya merasa bosan ketika membaca cerita Biwar, cara penulis bercerita belum anak-anak.
2. Banyak ilustrasi yang beragam, beberapa tampil lucu seperti di cerita Kerajaan Buaya.

Kekurangan:
1. Aneh, mohon maaf sebelumnya, Hatta Rajasa di buku ini bertugas sebagai penasihat. Lantas buku ini ditulis oleh beberapa orang, di antaranya: Agni Amorita, Dian Gaunggenta, Jessica Huwae, dan Veronica. Namun yang muncul di halaman profil justru biodata bapak Hatta Rajasa. Sekadar saran jika ditulis oleh beberapa orang alangkah baiknya ditulis pula biodata singkat masing-masing penulis. Agar terkesan adil. :)
2. Buku ini untuk usia 7-8 tahun ke atas, tentu dengan bimbingan orang tua. Karena konten cerita dan ilustrasi di dalam cukup kompleks. Kalau mau baca buku usia 5 sampai 7 tahun, bisa pilih cerita dongeng yang lebih ringan.

Quotes:
       "Apa maksudmu ibundaku tidak pernah pergi, burung sakti?"
"Maksudku, rasa cinta beliau selalu ada di dirimu, di dalam hati sanubarimu," jawab burung Hong. - halaman 92.

       "Menurutmu, mengapa mereka berani?"
"Karena mereka berjiwa ksatria. Seorang ksatria tak pernah mundur dari ujian, seberat apa pun itu." - halaman 120.

***

Senin 23 Januari 2017
Pukul 22:20 WIB
Ditulis via ponsel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar