Selasa, 26 Juli 2016

Julaybib

          Tersebutlah Julaybib, seorang yang tidak diketahui garis keturunannya. Satu-satunya yang diketahui oleh orang lain tentang dirinya adalah ia orang Arab dan termasuk golongan Anshar.

Julaybib mungkin tidak banyak dikenal, tetapi ia adalah sahabat Rasulullah Saw. yang mendapat hadiah berupa bidadari dari Allah Swt. Dan Julaybiblah yang memperoleh julukan khusus dari Rasulullah sebagai seorang bagian dari hidup Rasulullah.

Orang yang melihat Julaybib sebagai sosok miskin dan damim (buruk rupa). Selain bertubuh pendek dari usia pemuda pada umumnya. Ia juga mendapat cemoohan dan dijauhi banyak orang akibat kondisinya seperti itu.

Namun sungguh luar biasa, meskipun Julaybib minder dengan kondisinya, tidak sekalipun membuat dirinya surut untuk berbuat baik. Ia selalu yang terdepan dalam berbuat kebaikan. Kondisi yang dialaminya juga tidak menyebabkan ia terjerumus dalam lubang kenistaan.

Ia tidak mengedepankan hawa nafsunya ketika ia memiliki hasrat duniawi. Sikap rendah hatinya ini membuat Rasulullah menyukai Julaybib. Suatu hari, Rasulullah menganjurkan Julaybib untuk menikah. 
“Kalau begitu, nikahkanlah saya dengan wanita yang tidak laku, wahai Rasulullah.”

Rasulullah lebih mengetahui keadaan yang dialami Julaybib sebenarnya. Dia tentunya ingin memenuhi hasrat biologisnya sebagaimana lelaki normal kepada wanita, kemudian membina rumah tangga, dan membesarkan anak-anak.

Rasulullah mengetahui kondisi Julaybib bahkan mengetahui semua keadaan para sahabat waktu itu. Untuk maksud tersebut, Rasulullah pergi menemui salah seorang dari kaum Anshar lalu berkata, “Aku ingin melamar putrimu.”

“Alangkah membahagiakan dan dirahmati, wahai utusan Allah, dan betapa (pernikahan ini akan) indah terpandang," jawab lelaki Anshar itu dengan penuh kebahagiaan yang tak terbendung.

“Aku tidak melamarnya untuk diriku sendiri,” kata Rasulullah.
“Lalu untuk siapa, wahai utusan Allah?" kerut dikeningnya memperlihatkan keheranan, lelaki itu menebak-nebak siapakah jodoh yang akan dipilih oleh Rasulullah.
“Untuk Julaybib.”
Wajah lelaki Anshar itu pias bercampur kaget, sehingga beberapa detik berikutnya dirinya sempat terdiam. “Saya akan berunding dengan ibunya dulu.”

Lelaki itu memohon diri untuk menemui istrinya di dalam rumah. “Utusan Allah ingin melamar putri kita."
”Sungguh sebuah rencana yang menakjubkan dan betapa (pernikahan ini akan) indah terpandang,” balas istrinya, berbunga-bunga.

“Beliau tidak melamar untuk dinikahi oleh dirinya sendiri, tapi beliau ingin menikahkannya dengan Julaybib," jawab lelaki itu.
Kebahagiaan di wajah sang istri tiba-tiba memudar. “Untuk Julaybib? Tidak, tidak sudi putri kita untuk Julaybib! Demi Allah, tidak! kita tidak akan pernah menikahkan anak kita dengan Julaybib,” protes sang istri.

Ketika lelaki Anshar itu kembali hendak menemui Rasulullah untuk memberitahukan hasil percakapan dengan istrinya, putrinya yang mendengar ketidaksetujuan ibunya itu bertanya.
“Siapa yang menemui ayah untuk melamarku?”
Sang ibu memberitahukan kepadanya tentang permintaan Rasulullah untuk menikahkannya dengan Julaybib.

Ketika ia mendengar bahwa permintaan itu datang dari Rasulullah dan bahwa ibunya benar-benar menentang gagasan itu, ia pun tersinggung dan berkata, “Kalian berani menolak utusan Allah? Berikan aku kepada beliau karena beliau tak akan pernah membawa kesengsaraan untukku.”

Nabi mendengar jawabannya dan berdoa untuknya, “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan untuknya dan hindarkanlah hidupnya dari kesusahan dan kesengsaraan.”

Inilah sesungguhnya jawaban dan sikap muslimah sejati ketika dilamar oleh lelaki shalih.

Pernikahan berlangsung dengan sederhana, bersamaan dengan itu peperangan melawan kaum Musyrikin akan berlangsung. Maka, meskipun masih berstatus pengantin baru, terpanggillah jiwa Julaybib untuk ikut berperang melindungi Rasulullah dan membela agama Allah.

Setelah pertempuran itu usai, Rasulullah bertanya kepada para sahabat. “Apakah kalian kehilangan seseorang?” merekapun menjawab dengan memberikan nama-nama kerabat atau sahabat mereka yang terbunuh. Nabi lalu memberikan pertanyaan yang sama kepada sahabat-sahabat lain dan mereka pun memberikan nama-nama orang yang tewas dalam pertempuran itu. Salah seorang kelompok sahabat menjawab bahwa mereka tidak kehilangan seorang kerabat pun dan saat mendengar itu Nabi berkata, “Tapi aku kehilangan Julaybib. Tolong carikan dia di medan pertempuran.”

Mereka pun mencari dan menemukan Julaybib di samping tujuh orang musyrik yang dibunuhnya sebelum ia menemui ajalnya. Nabi lalu berdiri dan pergi menuju tempat di mana Julaybib, sahabatnya itu terbaring.

Beliau berdiri di dekatnya dan berkata, “Ia membunuh tujuh orang lalu pada akhirnya ia terbunuh. Lelaki ini adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darinya.”
Beliau mengulang kata-kata itu sebanyak dua atau tiga kali. Nabi kemudian membopong jasad Julaybib dengan tangannya sendiri dan Julaybib tak pernah memiliki tempat berbaring yang lebih baik dari lengan seorang utusan Allah.

Nabi kemudian menggali kubur untuknya dan beliau sendiri yang meletakkan jasad Julaybib ke liang lahat.

Kisah ini berdasarkan hadis Rasulullah Saw:

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ عُمَرَ بْنِ سَلِيطٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ كِنَانَةَ بْنِ نُعَيْمٍ عَنْ أَبِي بَرْزَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي مَغْزًى لَهُ فَأَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْهِ فَقَالَ لِأَصْحَابِهِ هَلْ تَفْقِدُونَ مِنْ أَحَدٍ قَالُوا نَعَمْ فُلَانًا وَفُلَانًا وَفُلَانًا ثُمَّ قَالَ هَلْ تَفْقِدُونَ مِنْ أَحَدٍ قَالُوا نَعَمْ فُلَانًا وَفُلَانًا وَفُلَانًا ثُمَّ قَالَ هَلْ تَفْقِدُونَ مِنْ أَحَدٍ قَالُوا لَا قَالَ لَكِنِّي أَفْقِدُ جُلَيْبِيبًا فَاطْلُبُوهُ فَطُلِبَ فِي الْقَتْلَى فَوَجَدُوهُ إِلَى جَنْبِ سَبْعَةٍ قَدْ قَتَلَهُمْ ثُمَّ قَتَلُوهُ فَأَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ قَتَلَ سَبْعَةً ثُمَّ قَتَلُوهُ هَذَا مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ هَذَا مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ قَالَ فَوَضَعَهُ عَلَى سَاعِدَيْهِ لَيْسَ لَهُ إِلَّا سَاعِدَا النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَحُفِرَ لَهُ وَوُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ غَسْلًا

Telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin 'Umar bin Salith]; Telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Salamah] dari [Tsabit] dari [Kinanah bin Nu'aim] dari [Abu Barzah] bahwa pada suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan kaum muslimin bertempur melawan musuh hingga memperoIeh harta rampasan perang. Usai pertempuran, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada para sahabat: "Apakah kalian kehilangan seorang sahabat kalian?" Para sahabat menjawab; "Ya. Kami telah kehilangan fulan, fulan, dan fulan." Rasulullah bertanya lagi: "Apakah kalian kehilangan seorang sahabat kalian?" Para sahabat menjawab, "Ya, kami telah kehilangan Fulan, fulan, dan fulan.' Sekali lagi Rasulullah bertanya; "Apakah kalian merasa kehilangan seorang dari sahabat kalian?" Para sahabat menjawab; "Ya, Kami telah kehilangan fulan, fulan dan fulan." Kemudian Rasulullah melanjutkan pernyataannya dan berkata: "Tapi aku sungguh telah kehilangan Julaibib. Oleh karena itu, tolong cari di manakah ia?" Lalu para sahabat berupaya mencari jasad Julaibib di tengah-tengah korban pertempuran. Akhirnya mereka menemukan jasadnya di sebelah tujuh orang kafir yang telah dibunuhnya, hingga ia sendiri gugur sebagai syahid di tangan orang-orang kafir. Tak lama kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendatangi mayat Julaibib dan berdiri di atasnya seraya berkata: "Sesungguhnya Julaibib telah membunuh tujuh orang kafir dan mereka membunuhnya. Julaibib ini termasuk dalam kelompokku dan aku termasuk dalam kelompoknya. Julaibib ini termasuk dalam kelompokku dan aku termasuk dalam kelompoknya." Abu Barzah berkata, "Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meletakkan mayat Julaibib di atas kedua Iengannya. Tidak ada alas bagi jasad Julaibib kala itu selain kedua lengan Rasulullah. Lalu para sahabat menggali kubur untuk jasad Julaibib dan dimasukkan ke dalamnya serta tidak disebutkan tentang mandi."

Jalur sanad:

Nadllah bin 'Ubaid >> Kinanah bin Nu'aim >> Tsabit bin Aslam >> Hammad bin Salamah bin Dinar >> Ishaq bin 'Umar bin Salith 

Hadits Imam Muslim Nomor 4519.

Wallahu a'lam bishawab.
Dikutip dari http://hadits.stiba.ac.id/?imam=muslim&no=4519&type=hadits

Rabu, 27 Juli 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar