Rabu, 17 Desember 2025

Resensi Buku: Perempuan yang Mendahului Zaman_K. Jasmi

Resensi Buku: Perempuan yang Mendahului Zaman_K. Jasmi

Judul buku      : Perempuan Yang Mendahului Zaman
Penulis             : Khairul Jasmi
Penerbit           : Republika
Tebal               : 232 xii halaman
ISBN               : 978-623-279-089-6

Buku ini mengisahkan perjalanan hidup Rahmah Al Yunusiah, seorang ulama perempuan asal Minangkabau, Sumatera Barat. Tokoh ini dikenal luas sebagai “Kartini Pendidikan Islam” karena jasanya yang luar biasa dalam memajukan pendidikan Islam, terutama bagi kaum perempuan.

Cerita dalam buku ini disusun secara berurutan, mulai dari kelahiran hingga wafatnya Rahmah. Cara penceritaannya menarik karena diselingi dengan percakapan dan menggunakan bahasa yang sederhana, sehingga pembaca bisa menikmatinya dengan lancar. Susunan cerita yang runtut membuat pembaca penasaran dan ingin terus membaca bab berikutnya.

Rahmah adalah sosok yang sangat istimewa dan langka. Meskipun lahir dari keluarga ulama terpandang, ia berani melawan kebiasaan zamannya dan melakukan hal-hal yang sulit dilakukan perempuan berpendidikan agama pada masa itu. Itulah mengapa buku ini diberi judul “Perempuan Mendahului Zaman”.

Meski berstatus janda, semangat Rahmah untuk dunia pendidikan tidak pernah padam meskipun menghadapi berbagai rintangan. Tekadnya untuk mendirikan dan mengelola sekolah khusus perempuan sungguh mengagumkan. Sekolah Diniyah Puteri yang didirikannya memiliki program pembelajaran yang sangat lengkap, mencakup semua aspek pendidikan.

Rahmah juga aktif dalam urusan kemiliteran dan berani menentang penjajah Jepun. Ia sangat dihormati baik oleh kawan maupun lawan. Sampai akhir hayatnya, ia tetap konsisten memperjuangkan pendidikan. Rahmah bukan perempuan biasa yang hanya mengikuti arus, tetapi justru ia yang menciptakan perubahan dan menetapkan standar tinggi tentang sejauh mana perempuan bisa berkontribusi.

Quotes favorit saya:

“Engku guru, tolong didik anak saya, ini beras dan uang secukupnya, ini rotan untuk pelecutnya. Jika anak kami nakal, tak mau mengaji, Engku lecut sajalah, biar dia pandai mengaji dan tahu adab berguru.” (Halaman 14)

“Tugas seorang guru adalah suatu tugas yang besar dan suci, yang dituntut oleh agama dan bangsa kita, tetapi tugas keguruan itu adalah tugas yang berat. Karena beratnya, maka orang-orang pandai dalam dunia dan sejarah pendidikan merasa perlu untuk menyusun sendiri ilmu-ilmu masalah keguruan untuk mempermudah mereka dalam memikul tugas yang berat, besar dan suci tersebut.”

(Zaki)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar