Menjadi editor buku-buku Islam adalah cita-cita saya yang lain. Ada dua alasan saya melamar menjadi editor buku-buku Islam, pertama mengasah minat saya terhadap sastra dan penerbitan dan kedua tentu untuk mempelajari ilmu agama lebih mendalam. Saya mendapat informasi lowongan kerja untuk posisi editor di penerbit ini dari seorang kenalan, beliau menyarankan saya untuk melamar.
Singkat cerita saya mengirimkan cv via jasa ekspedisi karena saat itu saya juga tengah mengirimkan lamaran ke banyak penerbit. Harap-harap cemas sambil menunggu saya tetap mengajar dan mencari informasi lowongan kerja yang lain. Satu minggu kemudian pada bulan puasa 12 Juni 2017 saya mendapat sms dari HRD Qultum Media, Ibu Ade, isinya agar saya membuka e-mail dan bersiap mengikuti tes tahap I pada Kamis 15 Juni 2017. Selang dua hari!
Saya mengikuti tes tahap I di Jl. H. Montong No.57 RT 006 RW 02 Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan (Komplek Bank Bumi Daya (BBD) dengan membawa cv lengkap, alat tulis, dan laptop. Berangkat dari rumah saat azan Shubuh berkumandang dan saya sampai di tempat pukul tujuh, satu jam sebelum jadwal tes dimulai. Di sana saya beserta pelamar editor lain menunggu Ibu Ade datang, syukurlah pegawai di sana ramah dari mulai satpam, resepsionis, sampai dengan HRD. Kesan pertama saya sampai di PT. AgroMedia Grup saat melihat lokasinya ternyata gedungnya berbentuk rumah besar seperti rumah Belanda dan di bagian belakang ternyata terdapat sekitar tiga paviliun sebagai ruang meeting dan ruang ujian pelamar dengan halaman yang luas nan hijau.
Pada pukul sembilan saya dituntun oleh Ibu Ade ke ruang meeting di pojok kiri area, di sana saya melaksanakan ujian tahap I. Ujian tahap I kurang lebih meliputi:
- interview
- screen test
- tes tulis jawabannya semua esai
- tes bahasa Inggris dan Arab
- tes mengedit naskah orang lain satu halaman.
Selama kurang lebih pukul sebelas saya selesai mengerjakannya dan saya tidak langsung pulang, melainkan menunggu waktu zuhur tiba. Adzan zuhur berkumandang pegawai penerbit berkumpul di area mushala. Mushala tersebut berada di depan paviliun tempat saya tes, hanya berselang dua pendopo saja. Seusai shalat zuhur hal yang menakjubkan ternyata mereka tadarusan, setiap orang sepuluh ayat secara bergiliran, saya pun turut serta di sana.
Tes tahap I selesai. Saya menunggu informasi selanjutnya, alhamdulillah, selang satu hari pada 16 Juni 2017 saya mendapat sms untuk mengecek e-mail, isinya agar saya mengikuti tes tahap II. Saya terpilih sebagai empat besar kandidat editor dari 120 pelamar (jumlah ini via jobstreet.id).
Tes tahap II ini berbeda dari tes tahap I karena saya tidak lagi dites mengedit naskah orang lain, melainkan interview kurang lebih satu jam bersama user, yakni Mas Agung sebagai Pemimpin Redaksi dan Mbak Tri sebagai Editor Qultum. User saya alhamdulillah ramah-ramah dan murah senyum, saya ditanya perihal latar belakang pendidikan, pekerjaan sebelumnya, kenapa ingin menjadi editor, pandangan dunia Islam era saat ini, organisasi kampus, orang tua dan sebagainya. Saya tidak menduga di penghujung interview ternyata ada tes Membaca Kitab Kuning kalau tidak salah saya membaca kitab Fiqh Sunnah setebal kitab Riyadhus Shalihin. Tes tahap II pun berjalan cukup lancar, meski saya kurang yakin apakah cara membaca saya benar atau salah dan apakah saya terlihat terlalu pede di hadapan user sehingga mungkin ada kalimat yang kurang berkenan di hati mereka. (Mohon maaf ya Mas Agung dan Mbak Tri, hehe)
Sekitar satu minggu saya menunggu belum ada sms, karena jarak panggilan memang persatu minggu. Harap-harap cemas saya menunggu, saya menganggap mungkin di sana tengah sibuk-sibuknya karena menjelang Lebaran. Karena penasaran saya bertanya ke sesama pelamar, dia juga belum mendapat pengumuman tetapi beberapa jam kemudian dia mengabarkan bahwa dia mendapat kabar bahwa dia lolos tes tahap II dan resmi menjadi editor di sana. Itu berarti tiga kandidat lainnya, termasuk saya, gugur. Ya, GUGUR!
Alhamdulillah ikut senang atas pencapaian teman saya itu. Dan pengalaman di atas menjadi pelajaran bagi saya khususnya untuk menjadi lebih baik lagi setiap melamar di berbagai tempat. Tentu user memiliki pertimbangan yang tepat dalam merekrut kandidat, mungkin yang baca kitabnya benar dan bagus, baca Qurannya tartil, aktif organisasi kampus dan ikut berbagai event, boleh jadi hal tersebut menjadi penilaian lebih.
Jadi, saat kamu hobi membaca dan menulis serta menerbitkan beberapa buku cerpen bukan berarti kamu bisa langsung menjadi editor. Setiap fase kehidupan butuh proses, kelak proses tersebut membentuk pribadimu menjadi lebih dewasa. Kamu belum rezeki di tempat A bukan berarti kamu bodoh, boleh jadi kelak rezekimu ada di tempat B bahkan di tempat Z.
Wallahu a'lam, jangan lupa terus berikhtiar dan berdoa serta mohon restu kedua orang tua. Sampai jumpa di cerita jobseeker selanjutnya. In sya Allah!
Ps:
Tidak mudah memang menjadi editor :)
Minggu, 09 Juli 2017
09.33 WIB
ditulis via ponsel.
Tes tertulis essai ini tentang apa kak?
BalasHapusKebetulan saya mendapatkan panggilan interview tahap 1, mohon infony kk