Selasa, 10 Juni 2014

Kalimat-Kalimat HAMKA dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

“Di belakang kita berdiri satu tugu yang bernama nasib, di sana telah tertulis rol yang akan kita jalani. Meskipun bagaimana kita mengelak dari ketentuan yang tersebut dalam nasib itu, tiadalah dapat, tetapi harus patuh kepada perintahnya.”—HAMKA.
 
“Di sini Guru menangis tersedu-sedu, meratap terisak mengatakan Guru kehilangan nikmat, kehilangan permata; padahal di pihak lain perempuan itu dengan senyum gembira menyandarkan kepalanya ke atas pangkuan suaminya; tidak teringat olehnya diri kita, dilupakan, dibuangkan, setelah dibuang diinjakkannya pula.”—Muluk.

“Ketahuilah bahwa Allah menjadikan matahari dan memberinya cahaya. Allah yang menjadikan bunga dan memberinya wangi. Allah yang menjadikan tubuh dan memberinya nyawa. Allah yang menjadikan mata dan memberinya penglihatan. Maka, Allah pulalah yang menjadikan hati dan memberinya cinta.”—Zainudin. 

“Cinta adalah iradat Tuhan, dikirimkannya ke dunia supaya tumbuh. Kalau dia terletak di atas tanah yang lekang dan tandus, tumbuhnya akan menyiksa orang lain. Kalau dia datang kepada hati yang keruh dan kepada budi yang rendah, dia akan membawa kerusakan. Tetapi jika dia hinggap kepada hati yang suci, dia akan mewariskan kemuliaan, keikhlasan, dan taat kepada Illahi.”—Zainudin. 

“Artinya Engku merenggutkan jantung dari dada saya.”
“Engkau seorang laki-laki Zainudin. Sakitmu hari ini bolehlah engkau obat besok dan lusa. Tetapi seorang perempuan... seorang perempuan mau binasa kalau menahan hati.”
“Tidak Engku... hati laki-lakilah yang kerap remuk lama. Perempuan dapat melupakan hidupnya di zaman muda.”

“Kalau demikian, hari inilah saya terangkan di hadapanmu, di hadapan cahaya matahari yang baru naik, di hadapan roh ibu bapa yang sudah sama-sama berkalang tanah, saya katakan; bahwa jiwaku telah diisi sepenuh-penuhnya oleh cinta kepadamu. Cintaku kepadamu telah memenuhi hatiku, telah terjadi sebagai nyawa dan badan adanya. Dan selalu saya berkata, biar Tuhan mendengarkan, bahwa engkaulah yang akan menjadi suamiku kelak, jika tidak sampai di dunia, biarlah di akhirat. Dan saya tiada khianat kepada janjiku, tidak akan berdusta di hadapan Tuhan, dan di hadapan arwah nenek moyangku.”—Hayati.  

Selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar