“Di belakang kita berdiri satu tugu yang bernama nasib, di sana
telah tertulis rol yang akan kita jalani. Meskipun bagaimana kita mengelak dari
ketentuan yang tersebut dalam nasib itu, tiadalah dapat, tetapi harus patuh
kepada perintahnya.”—HAMKA.
“Di sini Guru menangis tersedu-sedu, meratap terisak mengatakan
Guru kehilangan nikmat, kehilangan permata; padahal di pihak lain perempuan itu
dengan senyum gembira menyandarkan kepalanya ke atas pangkuan suaminya; tidak
teringat olehnya diri kita, dilupakan, dibuangkan, setelah dibuang
diinjakkannya pula.”—Muluk.
“Ketahuilah bahwa Allah menjadikan matahari dan memberinya cahaya.
Allah yang menjadikan bunga dan memberinya wangi. Allah yang menjadikan tubuh
dan memberinya nyawa. Allah yang menjadikan mata dan memberinya penglihatan. Maka,
Allah pulalah yang menjadikan hati dan memberinya cinta.”—Zainudin.
“Cinta adalah iradat Tuhan, dikirimkannya ke dunia supaya tumbuh. Kalau
dia terletak di atas tanah yang lekang dan tandus, tumbuhnya akan menyiksa
orang lain. Kalau dia datang kepada hati yang keruh dan kepada budi yang
rendah, dia akan membawa kerusakan. Tetapi jika dia hinggap kepada hati yang
suci, dia akan mewariskan kemuliaan, keikhlasan, dan taat kepada Illahi.”—Zainudin.
“Artinya Engku merenggutkan jantung dari dada saya.”
“Engkau seorang laki-laki Zainudin. Sakitmu hari ini bolehlah
engkau obat besok dan lusa. Tetapi seorang perempuan... seorang perempuan mau
binasa kalau menahan hati.”
“Tidak Engku... hati laki-lakilah yang kerap remuk lama. Perempuan dapat
melupakan hidupnya di zaman muda.”
“Kalau demikian, hari inilah saya terangkan di hadapanmu, di
hadapan cahaya matahari yang baru naik, di hadapan roh ibu bapa yang sudah
sama-sama berkalang tanah, saya katakan; bahwa jiwaku telah diisi
sepenuh-penuhnya oleh cinta kepadamu. Cintaku kepadamu telah memenuhi hatiku,
telah terjadi sebagai nyawa dan badan adanya. Dan selalu saya berkata, biar
Tuhan mendengarkan, bahwa engkaulah yang akan menjadi suamiku kelak, jika tidak
sampai di dunia, biarlah di akhirat. Dan saya tiada khianat kepada janjiku,
tidak akan berdusta di hadapan Tuhan, dan di hadapan arwah nenek moyangku.”—Hayati.
Selesai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar